1. Beranda
  2. Opini

Paradoks Guru Digital di Maluku Utara

Oleh ,

Oleh: Dr. Hendrizal, S.IP., M.Pd
(Dosen Pascasarjana S2 Pendas-PGSD FKIP Universitas Bung Hatta (UBH) Padang Penasihat Forum Diskusi Maluku Utara (Fordimu))

Coba bayangkan: di tengah lautan Maluku Utara yang birunya memesona, berdiri sebuah sekolah sederhana di tepi pantai. Anak-anak datang dengan kaki berdebu, membawa buku lusuh dan semangat yang masih utuh. Di papan tulis tertulis tema ‘pembelajaran digital’.

Tapi di luar sana, jangankan sinyal kuat, jaringan 3G saja sering menghilang begitu saja. Di sinilah ironi pendidikan digital Indonesia menemukan wajah paling nyatanya.

Baca di: Koran Digital Malut Post Edisi Kamis, 13 November 2025

Negara sedang sibuk bicara soal ‘digitalisasi pendidikan’; seolah semua akan jadi lebih efisien, lebih modern, dan lebih canggih. Tapi di lapangan, terutama di daerah seperti Maluku Utara, jargon digital seringkali berubah jadi beban baru bagi guru.

Mereka diminta menguasai platform pembelajaran, membuat laporan daring, hingga mengajar lewat internet. Padahal, jangankan laptop baru, listrik pun kadang masih byar-pet.

Menurut data Badan Pusat Statistik, hingga 2024 tingkat penetrasi internet nasional sudah mendekati 80%. Angka yang tampak membanggakan. Tapi di baliknya, ada ketimpangan besar. Sebagian besar peningkatan itu terjadi di Jawa, Sumatera bagian tengah, dan kota-kota besar di Kalimantan.

Sementara di Maluku Utara, masih ada banyak wilayah blank spot, terutama di Halmahera bagian utara, Taliabu, hingga Kepulauan Sula. Ribuan anak sekolah di sana belum bisa mengakses bahan ajar digital. Bahkan sekadar membuka laman belajar daring pun butuh perjuangan.

Di sinilah paradoksnya. Guru-guru di pulau kecil itu sering kali lebih kreatif dari yang kita bayangkan. Ada yang rela menyeberang pakai perahu ke desa sebelah hanya untuk mencari sinyal, agar bisa mengunduh bahan ajar.

Baca Halaman Selanjutnya..

Baca Juga